Kamis, 23 Oktober 2014

Gowes perdana ke Dieng

Gowes perdana ke Dieng 

Pikiran terlintas saat pulang kampung ke kota kecil Banjarnegara, Jawa Tengah.
Bersepeda ...ahh itu yang kuingin dari dulu, tentunya rutenya yang bikin suasana hati senang dan berkesan.
Dieng ...salah satu tujuan yang selalu melintas dipikiran, kenapa tidak segera diwujudkan (sambil berangan-angan di rumah orang tua)

Tanggal 01-01-2012, setelah mendapat SIM dari isteri tercinta (walaupun dengan perasaan ragu hehehe bisa apa gak? ) dan keponakan (mas Hendri) yang siap menemani karena penasaran juga, akhirnya kita sepakat, jam 06.00 pagi kita meluncur ke arah wonosobo.
Padahal cuaca di Banjarnegara saat itu turun hujan terus, sambil menyantap sarapan didekat "bangjo" sebelah timur Polres Banjarnegara kita berdua berdoa semoga hujan segera reda. Semoga...

Kalianget Wonosobo,

Kira-kira jam 7 an sampailah di kota Wonosobo, sambil mengarahkan mobil mencari tempat penitipan yang nyaman, sampailah kami di Pom Bensin Kalianget, tempatnya strategis, jaraknya pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Petugas dan penjaga Pom bensin sangat ramah, insya Alloh aman deh ...
Sepeda pun mulai dirakit dan cek perlengkapan buat mendukung selama perjalanan.

Pendakian yang mengesankan,

Sesudah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Karena baru turun hujan jalanan pun terbilang sepi, cuaca dingin mulai menembus baju jersey sepedaku. Jalan yang dilewati masih terlihat santun untuk digowes.
Gowesan demi gowesan berlalu, sampailah di pasar Garung, sebuah tempat yang menurutku ini adalah dimulainya siksaan perjalanan ini.
Sambil menunggu partner yang masih dibelakang (hehehe maaf mas hendri), saya berhenti sambil ambil gambar yang ada didepanku tepatnya di depan kantor Kecamatan Garung.

Garung Wonosobo
Pendakian ke Dieng ini bagiku yang pertama untuk sebuah rute yang berat, biasanya cuma gowes bareng teman-teman di Cikarang, jarakpun tidak terlalu jauh yang sering disebut ”Gowes komplek”.

Kembali lagi ke tema gowes, 

Setelah meregroup (hehe) kami berdua mulai menyusuri perjalanan lagi.
Benar yang kubayangkan ternyata langsung di hadapkan sebuah tanjakan yang meliuk dan panjang, napas mulai memburu, dengkul juga mulai panas mengebul, dengan tekad awal harus ku jalani, masa  menyerah :) 

liku liku tanjakan

Tanjakan panjang

Dengan sabar kukayuh pedal sepeda Mossoku, hanya bayangan sampai keatas jadi penyemangatku. 
Mas Hendri pun setia mengikutiku walaupun kelihatannya repot dengan tanjakan yang menyiksanya hehehe
Sesekali kami disapa oleh pemotor atau penumpang bus yang melewati, sambil memberikan salam ibu jari tanda jempolan hehe...semangat ah..
Tanjakan setelah Garung
Yang jadi penghibur selama perjalanan adalah pemandangan disekelilingku yang indah luar biasa, mengagumi ciptaan Alloh subhanahu wataala.

Sambil berhenti, tidak lupa selalu ambil momen gunung Sindoro dan sumbing yang berdampingan menambah keindahan alam perjalanan ke Dieng Plateau.
 
Keindahan alam
Tak terasa, walaupun perjalanan nan berat sampailah disuatu desa yang bernama Tieng, kebetulan beberapa minggu sebelumnya terkena bencana longsor yang membuat warga desa harus mengungsi di balai desa.
Tanah longsor


Tieng Wonosobo
Dengan cuaca yang kadang gerimis, kabut datang dan hilang seketika akhirnya kami berdua berhasil mencapai menara pandang Tieng (1789 mdpl), sambil rehat sejenak saya pesan dua porsi sate ayam, hmmm lumayan buat ganjal perut yang keroncongan selama perjalanan nanjak ini.
Fasilitas di Gardu pandang lumayan lengkap, ada pedagang berbagai macam makanan khas Dieng misal Carica, Purwaceng, kripik jamur dan lainnya, harganya juga pas dikantong.
Yang mau ”narsis” berfoto tinggal memilih tempat disekeliling menara pandang yang mempunyai dua lantai, keindahan alamnya membuat yang memandanginya takjub.

Gardu Pandang
Tak terasa 1 jam berlalu, perjalanan pun dilanjutkan,
Tanjakan semakin curam, napas tersengal-sengal juga, mungkin karena oksigen semakin menipis diketinggian. Kabut turun semakin pekat menutupi jalan, jarak pandang hanya 3 meter, sensasi ini luar biasa.

Kabut Dieng


Tanjakan setelah Gardu pandang
Kami pun berhenti sejenak, melihat sekeliling yang sudah tertutup oleh kabut tebal, didekat kami berhenti seorang petani yang sedang menunggu angkutan pulang, sambil ngobrol kamipun sempat berfoto.

Petani Dieng
Akhirnya kamipun sampai di Gapura Selamat Datang Dieng, waktu yang tersisa kami gunakan untuk berfoto ria.

Gapura Selamat Datang




Untuk mencapai kawasan wisata Dieng masih menempuh jarak 6 km lagi, namun karena cuaca kurang mendukung, dan jalan yang semakin sulit kami putuskan turun kembali ke kalianget Wonosobo.
Saat kembali turun, hujanpun turun membasahi baju, tas dan sepeda kami. Menambah rasa kedinginan, beku rasanya. Brrrr
Bau kampas rem yang terbakar membuktikan curamnya perjalanan ini.
Sampai Pom bensin Kalianget Wonosobo, kami bergegas mandi, sholat dan merapikan perbekalan dan peralatan.

Kehujanan
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada petugas Pom bensin kalianget yang telah memberikan tempat buat nitip boil.

Perjalanan pulang,
Rasa lapar menyerang, hawa dingin yang menusuk membuat perut tambah keroncongan.
Kami berdua putuskan mencari kuliner wonosobo, mie ongklok, yang rasanya nikmat hmmm


Tapi sayang momen ini karena baterai kamera habis, tidak bisa terabadikan.

Perjalan pulang ke Banjarnegara kembali setelah seharian berpetualang ( ciee ), membawa kenangan manis.
Suatu saat harus bisa menuntaskannya kembali, baru sampai tugu selamat datang.
Besoknya entah kapan harus sampai Dieng Plateau nya.


Miss you ...
Catatan lama terpendam (episode bersambung)

Gunpar