Gowes perdana
ke Dieng
Pikiran
terlintas saat pulang kampung ke kota
kecil Banjarnegara, Jawa Tengah.
Bersepeda
...ahh itu yang kuingin dari dulu, tentunya rutenya yang bikin suasana hati
senang dan berkesan.
Dieng
...salah satu tujuan yang selalu melintas dipikiran, kenapa tidak segera
diwujudkan (sambil berangan-angan di rumah orang tua)
Tanggal
01-01-2012, setelah mendapat SIM dari isteri tercinta (walaupun dengan perasaan
ragu hehehe bisa apa gak? ) dan keponakan (mas Hendri) yang siap menemani
karena penasaran juga, akhirnya kita sepakat, jam 06.00 pagi kita meluncur ke
arah wonosobo.
Padahal
cuaca di Banjarnegara saat itu turun hujan terus, sambil menyantap sarapan
didekat "bangjo" sebelah timur Polres Banjarnegara kita berdua berdoa
semoga hujan segera reda. Semoga...
Kalianget Wonosobo,
Kira-kira jam 7 an sampailah di kota Wonosobo, sambil
mengarahkan mobil mencari tempat penitipan yang nyaman, sampailah kami di Pom
Bensin Kalianget, tempatnya strategis, jaraknya pun tidak terlalu jauh dari
pusat kota. Petugas dan penjaga Pom bensin sangat ramah, insya Alloh aman deh
...
Sepeda pun mulai dirakit dan cek perlengkapan buat
mendukung selama perjalanan.
Pendakian yang mengesankan,
Sesudah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Karena
baru turun hujan jalanan pun terbilang sepi, cuaca dingin mulai menembus baju jersey
sepedaku. Jalan yang dilewati masih terlihat santun untuk digowes.
Gowesan demi gowesan berlalu, sampailah di pasar Garung,
sebuah tempat yang menurutku ini adalah dimulainya siksaan perjalanan ini.
Sambil menunggu partner yang masih dibelakang (hehehe
maaf mas hendri), saya berhenti sambil ambil gambar yang ada didepanku tepatnya
di depan kantor Kecamatan Garung.
![]() |
| Garung Wonosobo |
Pendakian ke Dieng ini bagiku yang pertama untuk sebuah
rute yang berat, biasanya cuma gowes bareng teman-teman di Cikarang, jarakpun tidak
terlalu jauh yang sering disebut ”Gowes komplek”.
Kembali lagi ke tema gowes,
Setelah meregroup (hehe) kami berdua
mulai menyusuri perjalanan lagi.
Benar yang kubayangkan ternyata langsung di hadapkan
sebuah tanjakan yang meliuk dan panjang, napas mulai memburu, dengkul juga
mulai panas mengebul, dengan tekad awal harus ku jalani, masa menyerah :)
![]() |
| liku liku tanjakan |
![]() |
| Tanjakan panjang |
Mas Hendri pun setia mengikutiku walaupun
kelihatannya repot dengan tanjakan yang menyiksanya hehehe
![]() |
| Tanjakan setelah Garung |
Yang jadi penghibur selama perjalanan adalah pemandangan
disekelilingku yang indah luar biasa, mengagumi ciptaan Alloh subhanahu
wataala.
Sambil berhenti, tidak lupa selalu ambil momen gunung
Sindoro dan sumbing yang berdampingan menambah keindahan alam perjalanan ke Dieng
Plateau.
Tak terasa, walaupun perjalanan nan berat sampailah
disuatu desa yang bernama Tieng, kebetulan beberapa minggu sebelumnya terkena
bencana longsor yang membuat warga desa harus mengungsi di balai desa.
![]() |
| Tanah longsor |
![]() |
| Tieng Wonosobo |
Dengan cuaca yang kadang gerimis, kabut datang dan hilang
seketika akhirnya kami berdua berhasil mencapai menara pandang Tieng (1789
mdpl), sambil rehat sejenak saya pesan dua porsi sate ayam, hmmm lumayan buat
ganjal perut yang keroncongan selama perjalanan nanjak ini.
Fasilitas di Gardu pandang lumayan lengkap, ada pedagang
berbagai macam makanan khas Dieng misal Carica, Purwaceng, kripik jamur dan
lainnya, harganya juga pas dikantong.
Yang mau ”narsis” berfoto tinggal memilih tempat
disekeliling menara pandang yang mempunyai dua lantai, keindahan alamnya
membuat yang memandanginya takjub.
![]() |
| Gardu Pandang |
Tak terasa 1 jam berlalu, perjalanan pun dilanjutkan,
Tanjakan semakin curam, napas tersengal-sengal juga,
mungkin karena oksigen semakin menipis diketinggian. Kabut turun semakin pekat
menutupi jalan, jarak pandang hanya 3 meter, sensasi ini luar biasa.
| Kabut Dieng |
![]() |
| Tanjakan setelah Gardu pandang |
Kami pun berhenti sejenak, melihat sekeliling yang sudah
tertutup oleh kabut tebal, didekat kami berhenti seorang petani yang sedang
menunggu angkutan pulang, sambil ngobrol kamipun sempat berfoto.
![]() |
| Petani Dieng |
Akhirnya kamipun sampai di Gapura Selamat Datang Dieng, waktu
yang tersisa kami gunakan untuk berfoto ria.
Saat kembali turun, hujanpun turun membasahi baju, tas
dan sepeda kami. Menambah rasa kedinginan, beku rasanya. Brrrr
Bau kampas rem yang terbakar membuktikan curamnya
perjalanan ini.
Sampai Pom bensin Kalianget Wonosobo, kami bergegas
mandi, sholat dan merapikan perbekalan dan peralatan.
| Kehujanan |
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada petugas Pom bensin
kalianget yang telah memberikan tempat buat nitip boil.
Perjalanan pulang,
Rasa lapar menyerang, hawa dingin yang menusuk membuat
perut tambah keroncongan.
Tapi sayang momen ini karena baterai kamera habis, tidak
bisa terabadikan.
Perjalan pulang ke Banjarnegara kembali setelah seharian
berpetualang ( ciee ), membawa kenangan manis.
Suatu saat harus bisa menuntaskannya kembali, baru sampai
tugu selamat datang.
Besoknya entah kapan harus sampai Dieng Plateau nya.
Miss you
...
Catatan
lama terpendam (episode bersambung)
Gunpar











mantaapp !!!
BalasHapusTerima kasih Mas Orosyid Aja sudah datang ke blog ini,
BalasHapusbelajar cerita pengalaman bersepeda
Kalo ksana lg kabar2 ya ... sy ikutan gowes.
BalasHapusKalo ksana lg kabar2 ya ... sy ikutan gowes.
BalasHapusinsyaa Allah Om Djatihutomo
BalasHapusdikabari