Selasa, 23 Agustus 2016

Gowes Banjarnegara-Kebumen-Karangsambung-Banjarnegara

Gowes Pembuka Setelah Lebaran
Banjarnegara - Kebumen - karangsambung - Banjarnegara

Kali ini ada semangat untuk bercerita tentang keinginanku bersepeda melewati jalur sempor yang tanjakannya lumayan aduhai :) bahasa orang sepeda hehe...

Minggu, tepatnya tanggal 19 Juli 2015 setelah selesai silaturahmi bertemu sanak saudara, keinginan untuk bersepeda begitu kuat. Keinginan menjajal dengan sepeda seberapa tinggi tanjakan sempor, walaupun setiap menuju Kebumen pastinya melewati jalur sempor yang paling dekat daripada melewati jalur Banyumas.

Kembali ke topik sepeda,
Setelah berpamitan dengan yang dirumah, mulailah meluncur dengan sepedaku menyusuri jalur yang biasa kulewati.
Jalur yang kulewati masih sepi dan berkabut, posisi menunjukkan pukul 05.30 wib. Tapi segarnya udara begitu kurasakan sangat berbeda dengan keadaan bersepeda di daerah Industri Cikarang Bekasi yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan, motor dan debu.
Rolling demi rolling kecil kulewati, dengan kecepatan konstan kucoba untuk melewatinya, sambil menyimpan energi yang masih akan kupakai buat nanjak ditanjakan jiper :) "istilah pertemanan didunia gowes"

Setelah satu jam berlalu tanjakan yang lumayan tinggi sedikit demi sedikit terlewati, tanjakan pertama naik perlahan dan lumayan panjang. Alhamdulillah tanpa henti walaupun kaki sedikit nyut nyut an.
Selanjutnya masih ada tanjakan kedua yang terkenal dengan sebutan "Kethileng", disini kendaraan baik motor maupun mobil jangan sampai terlambat untuk berpindah gigi, bisa bisa mundur masuk jurang, hmmm serem juga....
Dengan mengatur nafas dan perputaran kaki yang konstan, akhirnya bisa terlewati, yang asik itu diakhir tanjakan kok ya tikungan tajam , kerennn .....
Setelah tanjakan Bonus yang ditunggu tunggu ada didepan mata, turunan panjang meliuk liuk,
serasa meluncur di papan luncur tanpa direm.
Serrrr ternyata jalan sudah dicor, tanpa halangan. Beberapa motor dan mobil yang berusaha melambatkan lajunya berhasil ku salip hehehe....

Melewati rimbunan pohon pinus yang ada di samping jalan terasa sejuk
Ternyata jam menunjukkan pukul 06.30  wib sampailah di Waduk Sempor, dalam hati kenapa dari  dulu gak kesini ya (pertanyaan dalam hati yang bergelayut) ??
Jalurnya kerenlah buat yang suka nanjak.
Sambil santai menyusuri waduk sempor, terlihat ramai orang-orang yang sedang liburan, mata tertuju di tulisan KM 0, kok mirip KM 0 nya Sentul Bogor yang terkenal yang jadi pembicaraan hangat para jawara MTB-er Se antero Jabodetabek.


"KM 0" Waduk Sempor
Perjalanan diteruskan, dari waduk sempor meluncur ke arah pasar Gombong, 
Sesampainya dijalan raya Gombong Kebumen yang merupakan jalan nasional bagian selatan, tentunya lalu lalang kendaraan besar kecil tumpah disini apalagi kondisinya masih suasana lebaran.  Macet mobil mulai terlihat dari pasar Gombong, antrian begitu panjang.
Untuk urusan macet, sepeda jadi solusi terbaik. Sepedaku meluncur tanpa halangan melewati kendaraan yang macet melalui sisi kiri jalan yang berpasir dan kerikil.
Sampai Karanganyar ambil arah kiri terus menyeberangi rel kereta terus sampai kota Kebumen.
Sambil bersepeda pelan, mengenang dulu saat jaman saat masih sekolah di SMU 1 Kebumen kemana-mana pun harus bersepeda.
Dahulu parkiran sepeda di sekolah penuh, yang naik motor lebih sedikit daripada yang bersepeda, gak tahu sekarang, semoga masih seperti yang dulu.

SMUN 1 Kebumen
Setelah puas melepas lelah di sekitar alun-alun kebumen sambil bernostalgia, perjalanan dilanjutkan ke arah Karangsambung yang merupakan desa kecil sebelah utara kota Kebumen. Untuk mengarah kesana masuknya dari Perempatan Pasar Mertokondo menuju arah Utara. 
Desa Karangsambung ini terkenal karena ada pusat penelitian geologi milik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Berbagai macam jenis batu ada disini, termasuk akik yang kalian punya :).
Bersepeda kearah Karangsambung tidak membosankan karena kita disuguhi pemandangan yang indah, kelokan sungai Lukulo menambah keindahannya.
Berhenti sejenak di bendung Kaligending, airnya sudah menyusut, sepertinya lama tidak turun hujan.

Bendung Kaligending
Setelah rolling sebentar, akhirnya mampir dahulu ketempat Pak Lik didesa Banioro, Pak Lik pun gak percaya kok bisa sampai kesini, naik apa? lah khan naik sepeda Lik, jawabku hehe (terlihat geleng-geleng)

Sekiranya sudah cukup istirahatnya, rasa capek telah hilang, sambil membawa bekal air minum di botol dan jeruk manis dua biji, maka petualangan pun dilanjutkan lagi menuju Karang sambung, setelah melewati pasar Karangsambung, ada sedikit tanjakan yang diujungnya terlihat Kampus LIPI yang fenomenal menyimpan sejarah kehidupan dan dunia perbatuan jaman dulu.

LIPI Karangsambung

Setelah melewati kampus LIPI lanjut ke arah Sadang yang merupakan daerah perbukitan Pohon Pinus yang rindang, Upss terlihat ada insiden kecil saat turunan ternyata ada kecelakaan motor dengan motor, salah satu pengendara motor ambil jalan ditikungan terlalu ke kanan, alhamdulillah tidak fatal hanya senggolan.
Jadi pelajaran juga harus berhati hati di kondisi jalan yang sepi dan menikung.

Perjalanan lanjut lagi dan bertemu dengan persimpangan, papan petunjuk menjelaskan ke kiri arah Banjarnegara dan ke kanan arah Kecamatan Sadang. Kalau ke arah Sadang bisa tembus ke PLTA Wadaslintang dan Sawangan Wonosobo (ngintip google maps).

Persimpangan Pertama

Akhirnya kuputuskan mengambiil jalur ke kiri yang mengarah ke Banjarnegara.
Jalan yang dilalui awalnya masih aspal yang mulai mengelupas, namun akhirnya ujung jalan ternyata parah rusaknya, mungkin hanya motor dan mobil yang punya gardan tinggi yang bisa melewatinya.
Sisi kanan sungai dengan batu batu besar dan air jernih yang mengalir, terlihat anak-anak bermain dengan senangnya.
Sampai pertigaan lagi ada papan petunjuk, terlihat ke kiri arah Karanggayam tembus waduk Sempor dan ke arah Kanan menuju Banjarnegara. 
Persimpangan Kedua
Perjalanan berlanjut lagi, mulai terlihat jalan yang rusak dengan kondisi menanjak parah, sedang asyiknya menikmati tanjakan ternyata dari arah berlawanan, truk dengan muatan kayu meluncur, jalan cuma cukup buat satu mobil akhirnya turun dari sepeda dan minggir daripada dilibas si Raja Hutan hehehe
Awal Tanjakan Tanah
Kesempatan juga buat minum, panas yang menyengat membuat kondisi tubuh mulai lemah, sambil mengupas jeruk manis yang dibawa. Ternyata tanjakan ini luar biasa, jalan tanah yang bergelombang campur batu batu kecil dan pasir, lengkap sudah. Sempat bertemu motor, pengendaranya seorang bapak dan ibu, mereka terlihat lelah menuntun motornya karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dikendarai, terlalu berbahaya huhhh.... 


Jalan rusak parah
Perjalanan menanjak dilanjutkan, sedikit demi sedikit gigi sepeda mulai dipindahkan ke posisi yang ringan, view nya ternyata luar biasa setelah sampai atas, sebelah kanan jurang yang dibawahnya tumbuh pohon pinus. Didepan masih terlihat jalan yang begitu terjal menanjak, belum terlihat ujungnya.
Akhirnya sampailah diujung tanjakan, berhenti untuk menarik napas dalam dalam sambil melihat sekeliling, terlihat perbukitan perbukitan perbatasan antara kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.
Wacananya pemerintah Propinsi Jawa Tengah dalam waktu dekat akan membuat jalan yang menghubungkan Kabupaten Banjarnegara dan kebumen, namun melihat situasi jalan seperti itu rasanya berat juga.
Mungkin akan dialihkan ke jalan yang lebih mudah dilalui, tidak menanjak ekstrim seperti itu.
Semoga cepat terlaksana supaya meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat 
di Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.Aamiiin
Tanjakan terjal
Sudah puas dengan memandangi keindahan alam, perjalanan uphill dilanjutkan lagi, gak terasa perbekalan minum yang dibotol sudah mau habis. Ternyata warung belum terlihat sama sekali, panas semakin menjadi jadi. Tanjakan semakin tajam. 
Setelah melewati tanjakan lumayan tinggi sampailah di sebuah warung kecil, alhamdulillah ada air mineral dan roti. Habis dua botol kecil dan satu roti, lapar dan dahaga hehehe
Sambil makan ngobrol dengan pemilik warung, ternyata sudah dekat kampung kecil yaitu desa Kebutuh Duwur, diseberang sana terlihat dukuh Duren yang wilayahnya masuk Kecamatan Bawang, jalannya terlihat berliku dan tanjakan yang tajam. Di web nya Banjarnegara pernah baca, desa Duren sering mengalami kekeringan air saat kemarau tiba.
Semoga Alloh Subhanahu wata'ala mudahkan dengan turunnya rahmat yaitu Hujan.

Perjalanan dilanjutkan menuju arah Pagedongan, kalau lihat di maps kemarin jaraknya gak terlalu jauh, namun tanjakan senantiasa ada didepan mata. Tetap sabar dan optimis...
Akhirnya tanjakan sudah berujung, mendekati pepohonan pinus yang rindang ternyata turunan ada didepan mata.
Turunan panjang mengobati kelelahan saat nanjak, kanan kiri pohon pinus yang rindang..
Sampai di desa Karangtengah jalan menurun berkurang diganti dengan rolling jalan yang normal sampai Pasar Wage Banjarnegara.
Perjalanan dari pasar wage Banjarnegara ke arah Purwonegoro, sepanjang jalan alhamdulillah diiringi rintik hujan. Saat perjalanan sampai Semampir seberang bakso Olala terlihat Tugu Selamat Datang Banjarnegara Gilar Gilar, aku pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.
Tugu Banjarnegara Gilar Gilar
Alhamdulillah sampai rumah orang tua menunjukkan pukul 14.30 an Wib.
Pengalaman tak terlupakan tentunya, semoga bisa berlanjut ke petualangan berikutnya
(Belok kanan arah Wonosobo) hehe

Terima kasih untuk istri dan anak-anak atas supportnya.
Miss U...













Tidak ada komentar:

Posting Komentar