Melibas rute ke Curug Sudimoro dengan sepeda
Curug Sudimoro ini terletak di perbatasan Desa Donorojo dengan Desa Kenteng Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Koordinatnya : 7,528853°LS 109,527933°BT
Keinginan pergi ke tempat ini adalah hasil perbincangan penulis dengan sesama teman komunitas sepeda Banjarnegara yang pernah kesana di medsos. Karena ceritanya sangat menarik jadinya pingin melibas trek jalanannya dengan sepeda. Rencananya setelah beberapa hari setelah lebaran kami akan berkumpul untuk melakukan perjalanan kesana.
Tepatnya hari minggu 10 juli 2016 jam 06.00 wib, kami pun janjian untuk bersepeda kesana, berkumpul di tempat om Max di Kaliwinasuh Klampok. Saya pun meluncur, melewati jalan raya yang masih sepi. Walaupun banyak microbus yang lalu lalang, malas juga kalau harus loading sepeda karena jarak hanya 15 km, jarak segitu Insya Allah masih bisalah digowes dengan nyaman tanpa banyak energi yang keluar.
Sampailah di depan rumah Om Max di Klampok, ternyata sudah menunggu mas Danie yang asli Danaraja, walaupun sudah tidak punya sepeda karena laku terjual, pakai sepeda Om Max oke juga....size 27.5 lho ....hmmmm
Akhirnya kami mulai berangkat menuju tujuan, melewati jalan gandulekor yang merupakan jalan alternatif arah ke Gombong, Kebumen.
Sambil mengayuh sepeda tak lupa sambil ngobrol, cerita yang tak jauh dari dunia sepeda.
Tak berapa lama, kami pun sampai di Bendungan Gajah uling yang terkenal merupakan bendung aliran Kali Sapi, disini kita sempat berfoto bersama dan menunggu peserta lain yang mau ikut.
Setelah ditunggu tunggu muncullah dua orang teman sepeda dari Merden yang mau ikut trip ini, mas Wahyu (Megos) dan mas Farid (Wanadadi).
Rolling kecil pun dimulai, alhamdulillah masih pagi jadi masih sejuk dan nyaman. Tanjakan demi tanjakan pun dilalui, alhamdulillah tanjakan pertama sebelum "Kethileng" bisa kami lewati dengan lancar, walaupun ada waktu menunggu untuk teman dibelakang yang mulai terpisah.
Setelah teman dibelakang menyusul, kami pun berangkat lagi.
Saya dan Om Max melaju terus untuk bisa melewati tanjakan terakhir yang terkenal fenomenal yaitu tanjakan "Kethileng", kalau salah oper gigi bisa turun dari sepeda dan tentunya mulainya lagi susah karena tanjakannya curam dan berliku berbentuk letter "L", huaahhh rasanya tanjakan ini mengingatkan saya saat menanjak sendirian ke arah Curug Ciherang arah kota Bunga Cipanas.
Dengan tenaga sepenuhnya Alhamdulillah kami pun bisa melewatinya, sambil tunggu yang lain kami pun break untuk melepas dahaga.
Setelah dirasa cukup, perjalanan pun dilanjutkan. Alhamdulillah setelah tanjakan yang begitu menguras tenaga, bonus pun tiba, turunan nan panjang dan memanjakan kami untuk melepas penat. Namun begitu harus tetap berhati hati jangan sampai lengah bisa berbahaya....turunan plus tikungan membuat kaget saat berpapasan dengan mobil atau motor ke arah sebaliknya.
Turunan pun usai, aba aba minggir sebentar untuk ambil momen untuk berfoto bersama hehehe
(yang penting bahagia .....)
Perjalanan berlanjut, sebelum bendungan Sempor, disuguhi rolling kecil melewati jalan-jalan diatas sungai yang atasnya ditumbuhi pohon pinus.
![]() |
| Jembatan sebelum Sempor |
Sampailah kami di pintu masuk bendungan Sempor, tak lupa sebelum masuk kami pun berfoto bersama di penunjuk arah KM 0 (bendungan sempor).
![]() |
| KM 0 Waduk Sempor |
Kira-kira 1 km arah timur bendungan ada warung nasi dan jajanan yang lumayan lengkap menunya.
Warung nasi itu pun kami temukan, pesan sesuai dengan keinginan, saya pun makan mie goreng telur saja, nasi terlalu berat rasanya. Saat makan, datanglah serombongan goweser dari Gombong, kita saling kenalan satu sama lain dan lanjut obrolan tentang sepeda.
Kami pun bercerita, bermaksud pergi ke curug Sudimoro, kalau mau gabung kami persilahkan. Mereka tidak mau ikut, alasannya pulangnya kesiangan karena ada kepentingan lain.
Kami pun berfoto bersama dengan rombongan goweser dari Gombong tersebut, sebelum berpisah dengan latar belakang bendungan Sempor yang indah.
Telepon om Max pun berbunyi ternyata ada teman dari Banjarnegara yang menyusul untuk ikut, kami pun menunggu sampai dia datang. Tak seberapa lama dia pun datang ... (Om Maill).
![]() |
| Bersama rombongan Gowes Gombong (Background Waduk Sempor) |
Untuk menuju ke arah Curug Sudimoro caranya adalah dengan menyeberangi bendungan Sempor dengan naik perahu kecil ke desa Donorojo yang merupakan desa paling bawah.
Perahu pun kami tawar untuk sampai kesana, supaya murah kita patungan, lumayanlah lebih ringan tentunya.
Perjalanan dengan perahu menyeberangi bendungan Sempor serasa menyenangkan, diselingi foto foto narsis diatas perahu hehehe
Lumayan perjalanan menyeberangi bendungan berlangsung +/- 40 menitan, ternyata masya Alloh luas juga bendungan Sempor ini, kanan kiri nya masih ditumbuhi hutan belantara kecil yang jarang terjamah oleh manusia.
Kami pun sampai di dermaga perahu Kedung Wringin.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan yang rusak menuju desa Donorojo sebagai desa pintu gerbang Curug Sudimoro sebelah barat. Untuk melepas lelah dan ke kamar kecil, istirahat sebentar di masjid desa tersebut, sambil foto foto lagi :).
![]() |
| Naik perahu menyeberangi Waduk Sempor |
![]() |
| Dermaga Darurat Kedung Wringin |
![]() |
| Istirahat sejenak |
Syukurlah akhirnya perjalanan bisa bertambah ramai untuk melibas jalanan rusak ini.
Tanjakan yang ada didominasi oleh jalan yang sebagian sudah di cor namun rusak, jadinya banyak pasir dan batu yang berserakan, menambah tingkat kesulitan untuk melintasinya.
![]() |
| Suasana perjalanan yang mengasikkan |
Kami pun harus menuntun, padahal tanjakan itu hanya 100 meter namun material jalannya pasir dan kerikil yang susah di daki, akhirnya TTB juga hehe....
Sampai diatas tanjakan kami pun rehat sebentar, sambil minum dan makan bekal sisa yang ada. Ternyata pemandangannya begitu luar biasa, diatas bukit yang dibawahnya terlihat sungai mengalir dan pepohonan yang rindang, nan jauh disana terlihat bukit dengan tanahnya yang merah, menurut Om Aris ia lewat jalur tanah merah itu menuju ketempat ini, tapi menurutnya butuh perjuangan dan tekad luar biasa .... Hidup om Aris .....
Setelah rehat, kami pun meluncur ke bawah untuk menuju ke Curug Sudimoro yang tidak jauh lagi. Curamnya jalan setapak membuat kami extra hati hati, instruksi dari Om Max dan Mas Danie lebih baik sadel diturunkan, menghindari sepeda terjungkal.
![]() |
| Tetap harus TTB bersama-sama |
![]() |
| Jalur Shorcut dari kejauhan |
Satu persatu kami pun turun ke sungai kecil itu, airnya mengalir bening. Kami satu persatu meluncur menyeberanginya, walaupun ada salah satu yang terpeleset karena medannya yang cuma "single trek". Alhamdulillah bisa sampai semua di bibir sungai. Kamipun sudah tidak sabar untuk sampai di Curug Sudimoro, seperti apakah gerangan curug itu ?....tanya kami dalam hati .....
Untuk sampai ke Curug, beberapa saat kami harus berjalan menyusuri sungai kecil, akhirnya saya buka sepatu alias di cangking (ngapak...) hehe...
Ternyata kami posisinya bukan di pintu gerbangnya namun di bawah Curug, otomatis kami harus memanggul sepeda supaya bisa persis berada dibawah curug.
![]() |
| Menyusuri sungai untuk ke Curug Sudimoro |
Sesampainya dibawah curug, petugas loket pun segera menghampiri kami untuk menagih pembayaran tiket masuk kawasan wisata curug.
Untuk menuju ke tempat air terjunnya, kami pun memanggul dan mengangkat sepeda melalui pinggiran air terjun. Satu persatu bisa melewatinya ... sambil di abadikan oleh Om Maill.....
Terima kasih banyak om Maill fotoku keren lho... hehehe
![]() |
| Memanggul sepeda ke Curug Sudimoro |
![]() |
| Air terjun Sudimoro Komunitas Sepeda Banjarnegara |
Tapi jangan salah pemirsa :) , yang tersedia hanya minuman teh tawar dan teh hangat manis saja, tidak ada yang lain. Lumayanlah daripada gak ada....perut jadi keroncongan ... sabarrr....
Selesai rehat, acara nanjak dilanjutkan, penyiksaan dimulai lagi.
Untuk sampai ke jalan diatas air terjun harus melewati tangga berundak undak. Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka ya sepeda harus dipanggul, lumayan juga tangga nya naik +/- 100 meteran, weleh weleh....
Sesampainya di atas, kami pun me-regroup kembali.
Setelah itu lanjut rolling sedikit menyusuri jalan yang sudah dicor namun cuma seukuran ban mobil kanan kiri saja. Saat melewati rumah penduduk, terlihat ada warung, kami berinisiatif untuk membeli air mineral karena stok sudah habis dan makanan kecil.
Sambil minum dan makan jajanan kecil seadanya, Om Max sebagai tour of guide menginfokan setelah ini akan melewati tanjakan yang lumayan susah, walaupun jalannya dicor tetap saja kerikil dan pasir masih banyak. Tapi yang jadi catatan penting di pikiran, kata om Max nanti setelah nanjak ketemu warung kecil yang jual kupat plus mendoan yang maknyuzz ... mantapp ...
Perjalanan pun dilanjutkan, diselingi sendau gurau menghilangkan penat, lapar dan panas. Pas melewati tanjakan ternyata sepeda mulai berguguran alami alias turun dari sepeda, alhamdulillah saya bisa melewatinya karena buru buru pingin sampai warung kupat mendoan...hehe...
Sesampainya di depan warung, saya pun bertanya " Bu, nyuwun sewu kupat mendoan wonten ??" (dengan ekspresi berharap) .... Jawaban dari si ibu warung " Waduh, dinten niki mboten sadean Kupat Mendoan, coba mas, warung ngajeng mriko mbokan sadean" (sambil nunjuk ke arah depan warung) mendengar jawaban itu langsung kecewa deh hehe...
Mengikuti petunjuk si ibu warung tadi, saya pun bergegas ke arah warung tersebut. Posisinya ada - di sebelah kanan dan kiri, saya pun bertanya ke warung yang sebelah kanan, ternyata dia hari ini tidak jualan. Yang menjadi harapan tinggal warung sebelahnya, semoga ada makanan.
Alhamdulillah warung sebelah jualan, walaupun yang ada cuma mie Rebus dan kupat. Peserta gowes pun akhirnya rehat untuk menikmati makan siang dengan menu Mie rebus dan Kupat.
Alhamdulillah, nikmat yang luar biasa Ya Allah .....
Sambil menikmati makanan om Max menginfokan lagi tinggal tanjakan didepan dan turunnya makadam menyusuri jalan yang kanan kirinya adalah pohon pinus....
Setelah menikmati makan siang, saya pun pamit duluan untuk mencoba menaiki tanjakan di sebelah warung tadi, tanjakan terlihat keras berupa batu dan kerikil. Kayuhan demi kayuhan sampailah di ujung tanjakan, terlihatlah turunan yang makadam... sambil menunggu yang lain, saya pun meminggirkan sepeda sambil melihat keindahan sekeliling perbukitan pinus.
Satu persatu peserta pun bermunculan, yang paling depan Om Max disusul mas wahyu untuk memberi panduan arah. Turunan yang panjang dan makadam, salah ambil jalan sepeda bisa bisa terpeleset.
Kaki dan tangan saya berusaha menahan laju sepeda supaya terkendali, jangan sampai sepatu dan cleat lepas bisa sangat berbahaya.
Saking lamanya makadam kaki mulai berasa gemeteran, dalam hati ini turunan tajam dan makadam kapan selesainya ya ??..
Om Max sudah tidak terlihat lagi di tikungan, saya sendirian .... sambil memelankan laju sepeda, nunggu yang dibelakang, Om Maill, Mas Danie dan yang lain pun muncul, berhenti dulu ambil momen di turunan makadam. Lumayan buat istirahat dengkul yang gemetaran hehe...
Lanjut lagi menikmati turunan, ternyata mas Wahyu terlihat berhenti di depan, kampas rem habis, mau gak mau melajukan sepedanya dengan hanya rem depan dan berjalan pelan-pelan, berhati hati karena kondisi jalan sangat menurun.
![]() |
| Menunggu yang lain |
Di akhir turunan, sampailah di jalan aspal jalur Gombong - Banjarnegara (via Somagede).
Sambil rehat dan regroup, mas Wahyu dibantu oleh kami mulai mengotak atik rem sepedanya. Disetting supaya rem minimal bisa dipakai kembali atau di coba tukar rem depan jadi dibelakang.
Kebetulan rem nya masih yang manual belum hidrolik.
Setelah rem diperbaiki se bisanya, perjalanan dilanjutkan. Jalan di depan mulai terlihat rolling, tapi dominan tanjakannya.
![]() |
| Membantu Mas Wahyu service rem |
Saya lewat jalan ini terakhir pas gowes pulang dari Pantai Menganti, jadi masih ingat bagaimana naik turunnyai. Untuk menyemangati teman yang lain, kami gowes beriringan. Kalau pas dapat turunan langsung lepas tanpa di rem, rasanya nikmat luar biasa ... bonusss....
Setelah melewati tanjakan agak panjang kita pun rehat untuk Sholat Ashar, sambil minum dan isi botol sepeda.
Perjalanan dilanjutkan lagi, kami pun memulai melewati jalan yang menanjak tanpa ampun.
Saya posisi di depan bareng Om Max, sesekali pakai jurus ular untuk melewati tanjakan yang susah. Pelan pelan kayuhan semakin pelan karena tanjakan belum usai.
Saat nanjak lucunya banyak anak anak kecil yang menawarkan diri untuk dorong sepeda, dan itu merupakan hiburan (kata Om Max hehehe).....
Tapi alhamdulillah masih kuat, pas posisi sebelum tugu tentara desa Somagede tepatnya disebelah kiri ada sumber air (tuk) alami, saya minta om Max berhenti dulu buat merasakan dinginnya air itu. Jadi ingat waktu perjalanan pulang gowes dari Pantai Menganti, saya juga berhenti juga di sumber air (tuk) itu, airnya segar banget.....
Nanjak pun berlanjut, sampailah di Desa Somagede tepatnya di Tugu Tentara ( TNI masuk desa ).
Sambil nunggu yang lain, saya dan Om Max ambil momen foto foto disini.
Satu persatu teman teman bermunculan, terlihat om maill balapan sama mas wahyu hehe
Setelah Tugu Tentara ini, ternyata jalannya terus menurun.
![]() |
| Narsis dulu di Desa Somagede |
![]() |
| Saling mbalap di akhir tanjakan |
Langsung kami mulai nge-blong sepeda hehe...
Tapi saya jadi ingat mas Wahyu, bagaimana rem nya ya....turunan curam begini ??
Tapi sepeda keburu meluncur jauh ke bawah terbius mengikuti kelok jalan yang mulus.
Usai turunan ketemu langsung dengan tanjakan panjang, seingat saya ini tanjakan terakhir yang lumayan panjang juga sebelum sampai "Watu Celeng" yang fenomenal itu.
Selama melewati tanjakan masih ditemani Om Max, luar biasa jadi partner ngobrol selama nanjak
Diujung tanjakan ditandai dengan ada gardu listrik berwarna hijau yang menandai berakhirnya tanjakan.
Kami berdua sampai di Watu Celeng, karena sudah menjelang maghrib, maka kami putuskan langsung turun ke arah Desa Merden. Menikmati turunan, jadi bonus kami, tenaga serasa kembali karena hembusan angin perbukitan yang sepoi sepoi :)))
Setelah turunan usai dan bertemu jembatan, ketemu dengan tanjakan pendek ke arah desa Merden. alhamdulillah bisa kami lewati dengan lancar.
Sampai tugu perempatan Desa Merden kami pun belok kanan ke arah rumah mas Tulus (Megos) untuk numpang sholat maghrib, ternyata mas Tulus sedang di rumah mertua.
Kami berdua putuskan sambil menunggu mas Tulus datang dan teman yang sedang on the way, meluncurlah ke nasi Angkringan (sego kucing).
Tak berselang berapa lama mas Tulus pun datang, beliau mempersilahkan kami istirahat dan sholat maghrib di gedung perpustakaan desa Merden yang posisinya dibelakang warung nasi Angkringan
Kami berdua putuskan sambil menunggu mas Tulus datang dan teman yang sedang on the way, meluncurlah ke nasi Angkringan (sego kucing).
Tak berselang berapa lama mas Tulus pun datang, beliau mempersilahkan kami istirahat dan sholat maghrib di gedung perpustakaan desa Merden yang posisinya dibelakang warung nasi Angkringan
Satu per satu peserta gowes pun muncul mas danie, mas maill, mas wahyu, om Aris, dan satunya lagi (lupa namanya...). Om Aris gak ikut istirahat tapi langsung minta pamit ada telpon dari istri tercinta.
Sambil istirahat kami ditraktir nasi Angkringan dan jahe hangat....asikkk .... ngobrol ngalor ngidul tentang pengalaman bersepeda tadi siang.
Jazakumullohu khoiron mas tulus dan megos.....
Sambil istirahat kami ditraktir nasi Angkringan dan jahe hangat....asikkk .... ngobrol ngalor ngidul tentang pengalaman bersepeda tadi siang.
Jazakumullohu khoiron mas tulus dan megos.....
Akhirnya kami pun pulang menuju ke rumah masing-masing,
Peserta paling jauh dari timur adalah Om Maill dari Sokanandi Banjarnegara,
Peserta paling jauh dari barat adalah Om Max dari Kaliwinasuh, Klampok.
Saya dan mas Danie pun hanya bisa menemani Om Maill sampai Purwonegoro saja.
Alhamdulillah, semua pulang dengan selamat dan lancar
Pengalaman touring kali ini sangat berkesan....
Terima kasih teman teman semua
Om Max Santosa (Klampok)
Mas Wahyu (Megos)
Om Maill Sokanandi
Mas Danie Fernando (Megos)
Mas Danie Fernando (Megos)
Om Aris mandiraja
Mas Farid Wanadadi
Semoga berlanjut lagi silaturahmi nya
#Cikarang, 08-Maret 2017


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar