Jumat, 07 April 2017

Momen momen Indah dengan Sepeda di Kampung Halaman.


(Ringkasan beberapa Perjalanan )

Kesempatan terindah adalah saat bisa bersepeda dikampung halaman, pas moment pulang kampung, entah itu saat liburan anak sekolah (akhir tahun) atau mudik saat lebaran tiba.
Bayangan akan keindahan, kesejukan dan kesegaran saat bersepeda dikampung pastinya membuat pikiranku tidak sabar untuk segera bisa sampai disana.

Kabupaten Banjarnegara, sebuah kota kecil yang terletak di wilayah Karesidenan Banyumas, Propinsi Jawa tengah. Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Pekalongan dan Batang, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan Sebelah barat berbatasan dengan wilayah kabupaten Purbalingga dan kabupaten Banyumas.

Sekilas beberapa cerita dan foto yang paling berkesan saat gowes di kampung halaman :


1. Tanjakan di jalan Rakitan






2. Jembatan gantung sungai Serayu Purwonegoro - Kincang

3. Tugu Gilar-Gilar Banjarnegara
4. Curug Pitu
5. Watu Celeng Kalitengah
6. Desa Kalipelus
7. Wirasari (Selatan Banjarnegara)
8. Tampomas
9. Pecel Lemah Abang Maknyuzz
10. Dieng Plateau
11. Jembatan dekat Desa Sipedang
12. Lapangan udara Wirasaba (Perbatasan)
13. Kebun Singkong Desa Parakan
14. Tanjakan Sebelum Gardu Pandang Tieng

bersambung ..................mau bike to home dulu
cikarang, 07-04-2017

Rabu, 08 Maret 2017

Curug Sudimoro

Melibas rute ke Curug Sudimoro dengan sepeda

Curug Sudimoro ini terletak di perbatasan Desa Donorojo dengan Desa Kenteng Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Koordinatnya : 7,528853°LS 109,527933°BT
Keinginan pergi ke tempat ini adalah hasil perbincangan penulis dengan sesama teman komunitas sepeda Banjarnegara yang pernah kesana di medsos. Karena ceritanya sangat menarik jadinya pingin melibas trek jalanannya dengan sepeda. Rencananya setelah beberapa hari setelah lebaran kami akan berkumpul untuk melakukan perjalanan kesana.

Tepatnya hari minggu 10 juli 2016 jam 06.00 wib, kami pun janjian untuk bersepeda kesana, berkumpul di tempat om Max di Kaliwinasuh Klampok. Saya pun meluncur, melewati jalan raya yang masih sepi. Walaupun banyak microbus yang lalu lalang, malas juga kalau harus loading sepeda karena jarak hanya 15 km, jarak segitu Insya Allah masih bisalah digowes dengan nyaman tanpa banyak energi yang keluar.

Sampailah di depan rumah Om Max di Klampok, ternyata sudah menunggu mas Danie yang asli Danaraja, walaupun sudah tidak punya sepeda karena laku terjual, pakai sepeda Om Max oke juga....size 27.5 lho ....hmmmm

Akhirnya kami mulai berangkat menuju tujuan, melewati jalan gandulekor yang merupakan jalan alternatif arah ke Gombong, Kebumen. 
Sambil mengayuh sepeda tak lupa sambil ngobrol, cerita yang tak jauh dari dunia sepeda.
Tak berapa lama, kami pun sampai di Bendungan Gajah uling yang terkenal merupakan bendung aliran Kali Sapi, disini kita sempat berfoto bersama dan menunggu peserta lain yang mau ikut.
Setelah ditunggu tunggu muncullah dua orang teman sepeda dari Merden yang mau ikut trip ini, mas Wahyu (Megos) dan mas Farid (Wanadadi).

Bendung Kali Sapi
Perjalanan pun dilanjutkan, kayuhan demi kayuhan menuju arah Bendungan Sempor.

Rolling kecil pun dimulai, alhamdulillah masih pagi jadi masih sejuk dan nyaman. Tanjakan demi tanjakan pun dilalui, alhamdulillah tanjakan pertama sebelum "Kethileng" bisa kami lewati dengan lancar, walaupun ada waktu menunggu untuk teman dibelakang yang mulai terpisah.
Setelah teman dibelakang menyusul, kami pun berangkat lagi. 

Saya dan Om Max melaju terus untuk bisa melewati tanjakan terakhir yang terkenal fenomenal yaitu tanjakan "Kethileng", kalau salah oper gigi bisa turun dari sepeda dan tentunya mulainya lagi susah karena tanjakannya curam dan berliku berbentuk letter "L", huaahhh rasanya tanjakan ini mengingatkan saya saat menanjak sendirian ke arah Curug Ciherang arah kota Bunga Cipanas.
Dengan tenaga sepenuhnya Alhamdulillah kami pun bisa melewatinya, sambil tunggu yang lain kami pun break untuk melepas dahaga.

Setelah dirasa cukup, perjalanan pun dilanjutkan. Alhamdulillah setelah tanjakan yang begitu menguras tenaga, bonus pun tiba, turunan nan panjang dan memanjakan kami untuk melepas penat. Namun begitu harus tetap berhati hati jangan sampai lengah bisa berbahaya....turunan plus tikungan membuat kaget saat berpapasan dengan mobil atau motor ke arah sebaliknya.

Turunan pun usai, aba aba minggir sebentar untuk ambil momen untuk berfoto bersama hehehe
(yang penting bahagia .....)

Jembatan sebelum Sempor
Perjalanan berlanjut, sebelum bendungan Sempor, disuguhi rolling kecil melewati jalan-jalan diatas sungai yang atasnya ditumbuhi pohon pinus.
Sampailah kami di pintu masuk bendungan Sempor, tak lupa sebelum masuk kami pun berfoto bersama di penunjuk arah KM 0 (bendungan sempor).

KM 0 Waduk Sempor
Setelah itu kami pun masuk ke lokasi bendungan sempor, sambil berfoto foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan. Suasana ramai di bendungan karena masih musim libur lebaran, banyak wisatawan rombongan maupun yang sendiri sendiri.


Setelah puas kami pun sepakat mencari sarapan dulu di sekitar bendungan. 
Kira-kira 1 km arah timur bendungan ada warung nasi dan jajanan yang lumayan lengkap menunya.
Warung nasi itu pun kami temukan, pesan sesuai dengan keinginan, saya pun makan mie goreng telur saja, nasi terlalu berat rasanya. Saat makan, datanglah serombongan goweser dari Gombong, kita saling kenalan satu sama lain dan lanjut obrolan tentang sepeda.

Kami pun bercerita, bermaksud pergi ke curug Sudimoro, kalau mau gabung kami persilahkan. Mereka tidak mau ikut, alasannya pulangnya kesiangan karena ada kepentingan lain.
Kami pun berfoto bersama dengan rombongan goweser dari Gombong tersebut, sebelum berpisah dengan latar belakang bendungan Sempor yang indah.

Bersama rombongan Gowes Gombong
(Background Waduk Sempor)
Telepon om Max pun berbunyi ternyata ada teman dari Banjarnegara yang menyusul untuk ikut, kami pun menunggu sampai dia datang. Tak seberapa lama dia pun datang ... (Om Maill).
Untuk menuju ke arah Curug Sudimoro caranya adalah dengan menyeberangi bendungan Sempor dengan naik perahu kecil ke desa Donorojo yang merupakan desa paling bawah.
Perahu pun kami tawar untuk sampai kesana, supaya murah kita patungan, lumayanlah lebih ringan tentunya.
Perjalanan dengan perahu menyeberangi bendungan Sempor serasa menyenangkan, diselingi foto foto narsis diatas perahu hehehe
Lumayan perjalanan menyeberangi bendungan berlangsung +/- 40 menitan, ternyata masya Alloh luas juga bendungan Sempor ini, kanan kiri nya masih ditumbuhi hutan belantara kecil yang jarang terjamah oleh manusia.

Naik perahu menyeberangi Waduk Sempor
Kami pun sampai di dermaga perahu Kedung Wringin.

Dermaga Darurat Kedung Wringin
 Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan yang rusak menuju desa Donorojo sebagai desa pintu gerbang Curug Sudimoro sebelah barat. Untuk melepas lelah dan ke kamar kecil, istirahat sebentar di masjid desa tersebut, sambil foto foto lagi :).

Istirahat sejenak 
Perjalanan dimulai untuk melibas jalanan yang mulai makadam dan menanjak terjal. Saat asyik mengayuh lewat depan sebuah warung, samar samar tidak asing dengan wajahnya, setengah percaya dan tidak, ternyata "Om Aris Mandiraja" sudah mencegat rombongan, sambil tersenyum dengan senyumannya yang khas dia bercerita betapa senangnya bisa bertemu dengan kami, padahal ia sudah putus asa mau balik lagi karena kehilangan jejak. Sebelumnya juga telepon tidak bisa ikut karena trouble di sepedanya. Dia Shortcut (bahasa gowes..hehe ) langsung ambil arah kiri dari tanjakan "Kethileng". 
Syukurlah akhirnya perjalanan bisa bertambah ramai untuk melibas jalanan rusak ini.

Suasana perjalanan yang mengasikkan
Tanjakan yang ada didominasi oleh jalan yang sebagian sudah di cor namun rusak, jadinya banyak pasir dan batu yang berserakan, menambah tingkat kesulitan untuk melintasinya.
Kami pun harus menuntun, padahal tanjakan itu hanya 100 meter namun material jalannya pasir dan kerikil yang susah di daki, akhirnya TTB juga hehe....

Tetap harus TTB bersama-sama
Sampai diatas tanjakan kami pun rehat sebentar, sambil minum dan makan bekal sisa yang ada. Ternyata pemandangannya begitu luar biasa, diatas bukit yang dibawahnya terlihat sungai mengalir dan pepohonan yang rindang, nan jauh disana terlihat bukit dengan tanahnya yang merah, menurut Om Aris ia lewat jalur tanah merah itu menuju ketempat ini, tapi menurutnya butuh perjuangan dan tekad luar biasa .... Hidup om Aris .....

Jalur Shorcut dari kejauhan
Setelah rehat, kami pun meluncur ke bawah untuk menuju ke Curug Sudimoro yang tidak jauh lagi. Curamnya jalan setapak membuat kami extra hati hati, instruksi dari Om Max dan Mas Danie lebih baik sadel diturunkan, menghindari sepeda terjungkal.
Satu persatu kami pun turun ke sungai kecil itu, airnya mengalir bening. Kami satu persatu meluncur menyeberanginya, walaupun ada salah satu yang terpeleset karena medannya yang cuma "single trek". Alhamdulillah bisa sampai semua di bibir sungai. Kamipun sudah tidak sabar untuk sampai di Curug Sudimoro, seperti apakah gerangan curug itu ?....tanya kami dalam hati .....

Untuk sampai ke Curug, beberapa saat kami harus berjalan menyusuri sungai kecil, akhirnya saya buka sepatu alias di cangking (ngapak...) hehe...

Menyusuri sungai untuk ke Curug Sudimoro
Ternyata kami posisinya bukan di pintu gerbangnya namun di bawah Curug, otomatis kami harus memanggul sepeda supaya bisa persis berada dibawah curug.
Sesampainya dibawah curug, petugas loket pun segera menghampiri kami untuk menagih pembayaran tiket masuk kawasan wisata curug.

Untuk menuju ke tempat air terjunnya, kami pun memanggul dan mengangkat sepeda melalui pinggiran air terjun. Satu persatu bisa melewatinya ... sambil di abadikan oleh Om Maill.....
Terima kasih banyak om Maill fotoku keren lho... hehehe
Memanggul sepeda ke Curug Sudimoro
Sesi foto foto keluarga pun dimulai lagi untuk kenangan yang indah ....:)

Air terjun Sudimoro
Komunitas Sepeda Banjarnegara
Setelah acara pose pose foto keluarga cukup, kami memutuskan untuk rehat dahulu sekalian sholat dhuhur. Karena mushollanya kecil, kami pun bergantian, sambil mencari kalau ada makanan dan minuman yang ada diwarung dekat musholla.
Tapi jangan salah pemirsa :) , yang tersedia hanya minuman teh tawar dan teh hangat manis saja, tidak ada yang lain. Lumayanlah daripada gak ada....perut jadi keroncongan ... sabarrr....

Selesai rehat, acara nanjak dilanjutkan, penyiksaan dimulai lagi. 
Untuk sampai ke jalan diatas air terjun harus melewati tangga berundak undak. Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka ya sepeda harus dipanggul, lumayan juga tangga nya naik +/- 100 meteran, weleh weleh....

Sesampainya di atas, kami pun me-regroup kembali. 
Setelah itu lanjut rolling sedikit menyusuri jalan yang sudah dicor namun cuma seukuran ban mobil kanan kiri saja. Saat melewati rumah penduduk, terlihat ada warung, kami berinisiatif untuk membeli air mineral karena stok sudah habis dan makanan kecil. 
Sambil minum dan makan jajanan kecil seadanya, Om Max sebagai tour of guide menginfokan setelah ini akan melewati tanjakan yang lumayan susah, walaupun jalannya dicor tetap saja kerikil dan pasir masih banyak. Tapi yang jadi catatan penting di pikiran, kata om Max nanti setelah nanjak ketemu warung kecil yang jual kupat plus mendoan yang maknyuzz ... mantapp ...

Perjalanan pun dilanjutkan, diselingi sendau gurau menghilangkan penat, lapar dan panas. Pas melewati tanjakan ternyata sepeda mulai berguguran alami alias turun dari sepeda, alhamdulillah saya bisa melewatinya karena buru buru pingin sampai warung kupat mendoan...hehe...
Sesampainya di depan warung, saya pun bertanya " Bu, nyuwun sewu kupat mendoan wonten ??" (dengan ekspresi berharap) .... Jawaban dari si ibu warung " Waduh, dinten niki mboten sadean Kupat Mendoan, coba mas, warung ngajeng mriko mbokan sadean" (sambil nunjuk ke arah depan warung) mendengar jawaban itu langsung kecewa deh hehe...
Mengikuti petunjuk si ibu warung tadi, saya pun bergegas ke arah warung tersebut. Posisinya ada -     di sebelah kanan dan kiri, saya pun bertanya ke warung yang sebelah kanan, ternyata dia hari ini tidak jualan. Yang menjadi harapan tinggal warung sebelahnya, semoga ada makanan.
Alhamdulillah warung sebelah jualan, walaupun yang ada cuma mie Rebus dan kupat. Peserta gowes pun akhirnya rehat untuk menikmati makan siang dengan menu Mie rebus dan Kupat. 
Alhamdulillah, nikmat yang luar biasa Ya Allah ..... 

Sambil menikmati makanan om Max menginfokan lagi tinggal tanjakan didepan dan turunnya makadam menyusuri jalan yang kanan kirinya adalah pohon pinus....

Setelah menikmati makan siang, saya pun pamit duluan untuk mencoba menaiki tanjakan di sebelah warung tadi, tanjakan terlihat keras berupa batu dan kerikil. Kayuhan demi kayuhan sampailah di ujung tanjakan, terlihatlah turunan yang makadam... sambil menunggu yang lain, saya pun meminggirkan sepeda sambil melihat keindahan sekeliling perbukitan pinus.
Satu persatu peserta pun bermunculan, yang paling depan Om Max disusul mas wahyu untuk memberi panduan arah. Turunan yang panjang dan makadam, salah ambil jalan sepeda bisa bisa terpeleset. 
Kaki dan tangan saya berusaha menahan laju sepeda supaya terkendali, jangan sampai sepatu dan cleat lepas bisa sangat berbahaya.

Saking lamanya makadam kaki mulai berasa gemeteran, dalam hati ini turunan tajam dan makadam kapan selesainya ya ??..

Om Max sudah tidak terlihat lagi di tikungan, saya sendirian .... sambil memelankan laju sepeda, nunggu yang dibelakang, Om Maill, Mas Danie dan yang lain pun muncul, berhenti dulu ambil momen di turunan makadam. Lumayan buat istirahat dengkul yang gemetaran hehe...

Menunggu yang lain
Lanjut lagi menikmati turunan, ternyata mas Wahyu terlihat berhenti di depan, kampas rem habis, mau gak mau melajukan sepedanya dengan hanya rem depan dan berjalan pelan-pelan, berhati hati karena kondisi jalan sangat menurun.

Di akhir turunan, sampailah di jalan aspal jalur Gombong - Banjarnegara (via Somagede).

Sambil rehat dan regroup, mas Wahyu dibantu oleh kami mulai mengotak atik rem sepedanya. Disetting supaya rem minimal bisa dipakai kembali atau di coba tukar rem depan jadi dibelakang.
Kebetulan rem nya masih yang manual belum hidrolik.

Membantu Mas Wahyu service rem
Setelah rem diperbaiki se bisanya, perjalanan dilanjutkan. Jalan di depan mulai terlihat rolling, tapi dominan tanjakannya.
Saya lewat jalan ini terakhir pas gowes pulang dari Pantai Menganti, jadi masih ingat bagaimana naik turunnyai. Untuk menyemangati teman yang lain, kami gowes beriringan. Kalau pas dapat turunan langsung lepas tanpa di rem, rasanya nikmat luar biasa ... bonusss....
Setelah melewati tanjakan agak panjang kita pun rehat untuk Sholat Ashar, sambil minum dan isi botol sepeda.

Perjalanan dilanjutkan lagi, kami pun memulai melewati jalan yang menanjak tanpa ampun. 
Saya posisi di depan bareng Om Max, sesekali pakai jurus ular untuk melewati tanjakan yang susah. Pelan pelan kayuhan semakin pelan karena tanjakan belum usai. 
Saat nanjak lucunya banyak anak anak kecil yang menawarkan diri untuk dorong sepeda, dan itu merupakan hiburan (kata Om Max hehehe).....
Tapi alhamdulillah masih kuat, pas posisi sebelum tugu tentara desa Somagede tepatnya disebelah kiri ada sumber air (tuk) alami, saya minta om Max berhenti dulu buat merasakan dinginnya air itu. Jadi ingat waktu perjalanan pulang gowes dari Pantai Menganti, saya juga berhenti juga di sumber air (tuk) itu, airnya segar banget.....

Nanjak pun berlanjut, sampailah di Desa Somagede tepatnya di Tugu Tentara ( TNI masuk desa ).
Sambil nunggu yang lain, saya dan Om Max ambil momen foto foto disini.

Narsis dulu di Desa Somagede
Satu persatu teman teman bermunculan, terlihat om maill balapan sama mas wahyu hehe

Saling mbalap di akhir tanjakan
Setelah Tugu Tentara ini, ternyata jalannya terus menurun.
Langsung kami mulai nge-blong sepeda hehe...
Tapi saya jadi ingat mas Wahyu, bagaimana rem nya ya....turunan curam begini ??
Tapi sepeda keburu meluncur jauh ke bawah terbius mengikuti kelok jalan yang mulus.
Usai turunan ketemu langsung dengan tanjakan panjang, seingat saya ini tanjakan terakhir yang lumayan panjang juga sebelum sampai "Watu Celeng" yang fenomenal itu. 
Selama melewati tanjakan masih ditemani Om Max, luar biasa jadi partner ngobrol selama nanjak
Diujung tanjakan ditandai dengan ada gardu listrik berwarna hijau yang menandai berakhirnya tanjakan.

Kami berdua sampai di Watu Celeng, karena sudah menjelang maghrib, maka kami putuskan langsung turun ke arah Desa Merden. Menikmati turunan, jadi bonus kami, tenaga serasa kembali karena hembusan angin perbukitan yang sepoi sepoi :)))

Setelah turunan usai dan bertemu jembatan, ketemu dengan tanjakan pendek ke arah desa Merden. alhamdulillah bisa kami lewati dengan lancar. 

Sampai tugu perempatan Desa Merden kami pun belok kanan ke arah rumah mas Tulus (Megos) untuk numpang sholat maghrib, ternyata mas Tulus sedang di rumah mertua.
Kami berdua putuskan sambil menunggu mas Tulus datang dan teman yang sedang on the way, meluncurlah ke nasi Angkringan (sego kucing).
Tak berselang berapa lama mas Tulus pun datang, beliau mempersilahkan kami istirahat dan sholat maghrib di gedung perpustakaan desa Merden yang posisinya dibelakang warung nasi Angkringan
Satu per satu peserta gowes pun muncul mas danie, mas maill, mas wahyu, om Aris, dan satunya lagi (lupa namanya...). Om Aris gak ikut istirahat tapi langsung minta pamit ada telpon dari istri tercinta.
Sambil istirahat kami ditraktir nasi Angkringan dan jahe hangat....asikkk .... ngobrol ngalor ngidul tentang pengalaman bersepeda tadi siang.
Jazakumullohu khoiron mas tulus dan megos.....

Akhirnya kami pun pulang menuju ke rumah masing-masing,
Peserta paling jauh dari timur adalah Om Maill dari Sokanandi Banjarnegara,
Peserta paling jauh dari barat adalah Om Max dari Kaliwinasuh, Klampok.

Saya dan mas Danie pun hanya bisa menemani Om Maill sampai Purwonegoro saja.

Alhamdulillah, semua pulang dengan selamat dan lancar
Pengalaman touring kali ini sangat berkesan....

Terima kasih teman teman semua
Om Max Santosa (Klampok)
Mas Wahyu (Megos)
Om Maill Sokanandi
Mas Danie Fernando (Megos)
Om Aris mandiraja
Mas Farid Wanadadi

Semoga berlanjut lagi silaturahmi nya

#Cikarang, 08-Maret 2017

Resume perjalanan Gowes Curug Sudimoro

Selasa, 23 Agustus 2016

Perjalanan seorang B2W-er

Perjalanan seorang (Pesepeda) B2W-er
Bagian 1

Diawali tahun 2011, 

Teman sekantor mengajakku tuk bersepeda, hampir tiap hari dia bersepeda walaupun rumahnya jauh.
Luar biasa, dari Bekasi Barat ke Cikarang naik sepeda.
Karena dia seorang pembalap, tidak diragukan lagi kemampuannya.
Virus itu menularkan, akhirnya aku luluh untuk mencoba bersepeda, dikompori satu orang teman lagi,
tiba tiba dia bercerita kemarin sore beli sepeda di Hypermart, dia cerita mau mulai giat bersepeda ke kantor tiap hari.
Jadi akhirnya kubeli sepeda pertamaku Polygon Xtrada 4.0 tahun 2010 sebagai tungganganku, dengan spec yang masih sangat standar, masih bergigi 7 speed waktu itu...:)

Kucoba menjalani sesi Bike to Work untuk esok hari, ternyata tetanggaku ada yang mau menemani.
Kata istri, dia sering terlihat berangkat kerja naik sepeda, kadang sepeda lipat, kadang sepeda MTB.
Wah, tambah penasaran menunggu esok hari buat jalan pertama kalinya.

Esok pagi hari pun tiba, 
Aku dan tetanggaku bertemu untuk berangkat kerja, ceritanya Bike to Work nih hehehe
Jalur pertamaku keluar dari perumahan menuju arah jalan kampung yang aku biasa naik motor kalau
ke kantor. Keluar Kalimalang nanjak sedikit, ketemu jalan datar, alhamdulillah lulus tanpa hambatan.
Lanjut arah kekanan menyusuri pinggir jalan tol, masih turunan.
Yang aku khawatirkan terjadi juga, setelah turunan muncullah tanjakan yang membuat aku kelimpungan.
Wah gila ini, ternyata nyepeda itu berat banget, rasanya campur aduk gak karuan.
Tetanggaku karena sudah biasa bersepeda perlahan mulai meninggalkanku, kesalnya gak menengok 
ke belakang apalagi nungguin wahhh pokoknya ngeselin hehehe

Akhirnya tanjakan pun selesai dan berganti dengan jalan raya arah ke kawasan industri tempat aku bekerja. Tetanggaku .... gak kelihatan dimana berada.... sudah jauh tak terlihat.
Ya sudahlah ini memang nasibku untuk mengayuh sepeda sendirian sampai tempat kerja.
Sesampainya di kantor sepeda ku parkirkan gantungkan disebelah sepeda teman yang lain.
Sambil mengelap keringat, teman pesepeda yang lain cerita pengalamannya saat bersepeda ke kantor.
Ada ceritanya susah dan ada yang senang, intinya si.. di nikmati saja.

Bel pulang kerja pun berbunyi, langsung shalat dan ganti baju jersey buat pulang.
Menuju parkiran, membayangkan indahnya pulang kerja saat bersepeda.
Pulangnya lewat jalur yang berbeda saat berangkatnya, lumayan agak jauh tapi lebih sepi 
karena masih jalur alternatif motor.

Sesampainya dirumah, badan kok rasanya gak enak banget.
Kaki terasa pegal dan linu, sampai malam pun susah tidur tulang rasanya seperti di pukul pukul, sakit.....
Tapi gimana lagi sudah resiko, semoga besok pagi bisa bersepeda lagi hehehe (sambil nyengir kesakitan)
................... to be continued.......................
Bike to Work

Gowes Pertamaku
Lippo Cikarang






Gowes Banjarnegara-Kebumen-Karangsambung-Banjarnegara

Gowes Pembuka Setelah Lebaran
Banjarnegara - Kebumen - karangsambung - Banjarnegara

Kali ini ada semangat untuk bercerita tentang keinginanku bersepeda melewati jalur sempor yang tanjakannya lumayan aduhai :) bahasa orang sepeda hehe...

Minggu, tepatnya tanggal 19 Juli 2015 setelah selesai silaturahmi bertemu sanak saudara, keinginan untuk bersepeda begitu kuat. Keinginan menjajal dengan sepeda seberapa tinggi tanjakan sempor, walaupun setiap menuju Kebumen pastinya melewati jalur sempor yang paling dekat daripada melewati jalur Banyumas.

Kembali ke topik sepeda,
Setelah berpamitan dengan yang dirumah, mulailah meluncur dengan sepedaku menyusuri jalur yang biasa kulewati.
Jalur yang kulewati masih sepi dan berkabut, posisi menunjukkan pukul 05.30 wib. Tapi segarnya udara begitu kurasakan sangat berbeda dengan keadaan bersepeda di daerah Industri Cikarang Bekasi yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan, motor dan debu.
Rolling demi rolling kecil kulewati, dengan kecepatan konstan kucoba untuk melewatinya, sambil menyimpan energi yang masih akan kupakai buat nanjak ditanjakan jiper :) "istilah pertemanan didunia gowes"

Setelah satu jam berlalu tanjakan yang lumayan tinggi sedikit demi sedikit terlewati, tanjakan pertama naik perlahan dan lumayan panjang. Alhamdulillah tanpa henti walaupun kaki sedikit nyut nyut an.
Selanjutnya masih ada tanjakan kedua yang terkenal dengan sebutan "Kethileng", disini kendaraan baik motor maupun mobil jangan sampai terlambat untuk berpindah gigi, bisa bisa mundur masuk jurang, hmmm serem juga....
Dengan mengatur nafas dan perputaran kaki yang konstan, akhirnya bisa terlewati, yang asik itu diakhir tanjakan kok ya tikungan tajam , kerennn .....
Setelah tanjakan Bonus yang ditunggu tunggu ada didepan mata, turunan panjang meliuk liuk,
serasa meluncur di papan luncur tanpa direm.
Serrrr ternyata jalan sudah dicor, tanpa halangan. Beberapa motor dan mobil yang berusaha melambatkan lajunya berhasil ku salip hehehe....

Melewati rimbunan pohon pinus yang ada di samping jalan terasa sejuk
Ternyata jam menunjukkan pukul 06.30  wib sampailah di Waduk Sempor, dalam hati kenapa dari  dulu gak kesini ya (pertanyaan dalam hati yang bergelayut) ??
Jalurnya kerenlah buat yang suka nanjak.
Sambil santai menyusuri waduk sempor, terlihat ramai orang-orang yang sedang liburan, mata tertuju di tulisan KM 0, kok mirip KM 0 nya Sentul Bogor yang terkenal yang jadi pembicaraan hangat para jawara MTB-er Se antero Jabodetabek.


"KM 0" Waduk Sempor
Perjalanan diteruskan, dari waduk sempor meluncur ke arah pasar Gombong, 
Sesampainya dijalan raya Gombong Kebumen yang merupakan jalan nasional bagian selatan, tentunya lalu lalang kendaraan besar kecil tumpah disini apalagi kondisinya masih suasana lebaran.  Macet mobil mulai terlihat dari pasar Gombong, antrian begitu panjang.
Untuk urusan macet, sepeda jadi solusi terbaik. Sepedaku meluncur tanpa halangan melewati kendaraan yang macet melalui sisi kiri jalan yang berpasir dan kerikil.
Sampai Karanganyar ambil arah kiri terus menyeberangi rel kereta terus sampai kota Kebumen.
Sambil bersepeda pelan, mengenang dulu saat jaman saat masih sekolah di SMU 1 Kebumen kemana-mana pun harus bersepeda.
Dahulu parkiran sepeda di sekolah penuh, yang naik motor lebih sedikit daripada yang bersepeda, gak tahu sekarang, semoga masih seperti yang dulu.

SMUN 1 Kebumen
Setelah puas melepas lelah di sekitar alun-alun kebumen sambil bernostalgia, perjalanan dilanjutkan ke arah Karangsambung yang merupakan desa kecil sebelah utara kota Kebumen. Untuk mengarah kesana masuknya dari Perempatan Pasar Mertokondo menuju arah Utara. 
Desa Karangsambung ini terkenal karena ada pusat penelitian geologi milik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Berbagai macam jenis batu ada disini, termasuk akik yang kalian punya :).
Bersepeda kearah Karangsambung tidak membosankan karena kita disuguhi pemandangan yang indah, kelokan sungai Lukulo menambah keindahannya.
Berhenti sejenak di bendung Kaligending, airnya sudah menyusut, sepertinya lama tidak turun hujan.

Bendung Kaligending
Setelah rolling sebentar, akhirnya mampir dahulu ketempat Pak Lik didesa Banioro, Pak Lik pun gak percaya kok bisa sampai kesini, naik apa? lah khan naik sepeda Lik, jawabku hehe (terlihat geleng-geleng)

Sekiranya sudah cukup istirahatnya, rasa capek telah hilang, sambil membawa bekal air minum di botol dan jeruk manis dua biji, maka petualangan pun dilanjutkan lagi menuju Karang sambung, setelah melewati pasar Karangsambung, ada sedikit tanjakan yang diujungnya terlihat Kampus LIPI yang fenomenal menyimpan sejarah kehidupan dan dunia perbatuan jaman dulu.

LIPI Karangsambung

Setelah melewati kampus LIPI lanjut ke arah Sadang yang merupakan daerah perbukitan Pohon Pinus yang rindang, Upss terlihat ada insiden kecil saat turunan ternyata ada kecelakaan motor dengan motor, salah satu pengendara motor ambil jalan ditikungan terlalu ke kanan, alhamdulillah tidak fatal hanya senggolan.
Jadi pelajaran juga harus berhati hati di kondisi jalan yang sepi dan menikung.

Perjalanan lanjut lagi dan bertemu dengan persimpangan, papan petunjuk menjelaskan ke kiri arah Banjarnegara dan ke kanan arah Kecamatan Sadang. Kalau ke arah Sadang bisa tembus ke PLTA Wadaslintang dan Sawangan Wonosobo (ngintip google maps).

Persimpangan Pertama

Akhirnya kuputuskan mengambiil jalur ke kiri yang mengarah ke Banjarnegara.
Jalan yang dilalui awalnya masih aspal yang mulai mengelupas, namun akhirnya ujung jalan ternyata parah rusaknya, mungkin hanya motor dan mobil yang punya gardan tinggi yang bisa melewatinya.
Sisi kanan sungai dengan batu batu besar dan air jernih yang mengalir, terlihat anak-anak bermain dengan senangnya.
Sampai pertigaan lagi ada papan petunjuk, terlihat ke kiri arah Karanggayam tembus waduk Sempor dan ke arah Kanan menuju Banjarnegara. 
Persimpangan Kedua
Perjalanan berlanjut lagi, mulai terlihat jalan yang rusak dengan kondisi menanjak parah, sedang asyiknya menikmati tanjakan ternyata dari arah berlawanan, truk dengan muatan kayu meluncur, jalan cuma cukup buat satu mobil akhirnya turun dari sepeda dan minggir daripada dilibas si Raja Hutan hehehe
Awal Tanjakan Tanah
Kesempatan juga buat minum, panas yang menyengat membuat kondisi tubuh mulai lemah, sambil mengupas jeruk manis yang dibawa. Ternyata tanjakan ini luar biasa, jalan tanah yang bergelombang campur batu batu kecil dan pasir, lengkap sudah. Sempat bertemu motor, pengendaranya seorang bapak dan ibu, mereka terlihat lelah menuntun motornya karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dikendarai, terlalu berbahaya huhhh.... 


Jalan rusak parah
Perjalanan menanjak dilanjutkan, sedikit demi sedikit gigi sepeda mulai dipindahkan ke posisi yang ringan, view nya ternyata luar biasa setelah sampai atas, sebelah kanan jurang yang dibawahnya tumbuh pohon pinus. Didepan masih terlihat jalan yang begitu terjal menanjak, belum terlihat ujungnya.
Akhirnya sampailah diujung tanjakan, berhenti untuk menarik napas dalam dalam sambil melihat sekeliling, terlihat perbukitan perbukitan perbatasan antara kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.
Wacananya pemerintah Propinsi Jawa Tengah dalam waktu dekat akan membuat jalan yang menghubungkan Kabupaten Banjarnegara dan kebumen, namun melihat situasi jalan seperti itu rasanya berat juga.
Mungkin akan dialihkan ke jalan yang lebih mudah dilalui, tidak menanjak ekstrim seperti itu.
Semoga cepat terlaksana supaya meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat 
di Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.Aamiiin
Tanjakan terjal
Sudah puas dengan memandangi keindahan alam, perjalanan uphill dilanjutkan lagi, gak terasa perbekalan minum yang dibotol sudah mau habis. Ternyata warung belum terlihat sama sekali, panas semakin menjadi jadi. Tanjakan semakin tajam. 
Setelah melewati tanjakan lumayan tinggi sampailah di sebuah warung kecil, alhamdulillah ada air mineral dan roti. Habis dua botol kecil dan satu roti, lapar dan dahaga hehehe
Sambil makan ngobrol dengan pemilik warung, ternyata sudah dekat kampung kecil yaitu desa Kebutuh Duwur, diseberang sana terlihat dukuh Duren yang wilayahnya masuk Kecamatan Bawang, jalannya terlihat berliku dan tanjakan yang tajam. Di web nya Banjarnegara pernah baca, desa Duren sering mengalami kekeringan air saat kemarau tiba.
Semoga Alloh Subhanahu wata'ala mudahkan dengan turunnya rahmat yaitu Hujan.

Perjalanan dilanjutkan menuju arah Pagedongan, kalau lihat di maps kemarin jaraknya gak terlalu jauh, namun tanjakan senantiasa ada didepan mata. Tetap sabar dan optimis...
Akhirnya tanjakan sudah berujung, mendekati pepohonan pinus yang rindang ternyata turunan ada didepan mata.
Turunan panjang mengobati kelelahan saat nanjak, kanan kiri pohon pinus yang rindang..
Sampai di desa Karangtengah jalan menurun berkurang diganti dengan rolling jalan yang normal sampai Pasar Wage Banjarnegara.
Perjalanan dari pasar wage Banjarnegara ke arah Purwonegoro, sepanjang jalan alhamdulillah diiringi rintik hujan. Saat perjalanan sampai Semampir seberang bakso Olala terlihat Tugu Selamat Datang Banjarnegara Gilar Gilar, aku pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.
Tugu Banjarnegara Gilar Gilar
Alhamdulillah sampai rumah orang tua menunjukkan pukul 14.30 an Wib.
Pengalaman tak terlupakan tentunya, semoga bisa berlanjut ke petualangan berikutnya
(Belok kanan arah Wonosobo) hehe

Terima kasih untuk istri dan anak-anak atas supportnya.
Miss U...













Kamis, 23 Oktober 2014

Gowes perdana ke Dieng

Gowes perdana ke Dieng 

Pikiran terlintas saat pulang kampung ke kota kecil Banjarnegara, Jawa Tengah.
Bersepeda ...ahh itu yang kuingin dari dulu, tentunya rutenya yang bikin suasana hati senang dan berkesan.
Dieng ...salah satu tujuan yang selalu melintas dipikiran, kenapa tidak segera diwujudkan (sambil berangan-angan di rumah orang tua)

Tanggal 01-01-2012, setelah mendapat SIM dari isteri tercinta (walaupun dengan perasaan ragu hehehe bisa apa gak? ) dan keponakan (mas Hendri) yang siap menemani karena penasaran juga, akhirnya kita sepakat, jam 06.00 pagi kita meluncur ke arah wonosobo.
Padahal cuaca di Banjarnegara saat itu turun hujan terus, sambil menyantap sarapan didekat "bangjo" sebelah timur Polres Banjarnegara kita berdua berdoa semoga hujan segera reda. Semoga...

Kalianget Wonosobo,

Kira-kira jam 7 an sampailah di kota Wonosobo, sambil mengarahkan mobil mencari tempat penitipan yang nyaman, sampailah kami di Pom Bensin Kalianget, tempatnya strategis, jaraknya pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Petugas dan penjaga Pom bensin sangat ramah, insya Alloh aman deh ...
Sepeda pun mulai dirakit dan cek perlengkapan buat mendukung selama perjalanan.

Pendakian yang mengesankan,

Sesudah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Karena baru turun hujan jalanan pun terbilang sepi, cuaca dingin mulai menembus baju jersey sepedaku. Jalan yang dilewati masih terlihat santun untuk digowes.
Gowesan demi gowesan berlalu, sampailah di pasar Garung, sebuah tempat yang menurutku ini adalah dimulainya siksaan perjalanan ini.
Sambil menunggu partner yang masih dibelakang (hehehe maaf mas hendri), saya berhenti sambil ambil gambar yang ada didepanku tepatnya di depan kantor Kecamatan Garung.

Garung Wonosobo
Pendakian ke Dieng ini bagiku yang pertama untuk sebuah rute yang berat, biasanya cuma gowes bareng teman-teman di Cikarang, jarakpun tidak terlalu jauh yang sering disebut ”Gowes komplek”.

Kembali lagi ke tema gowes, 

Setelah meregroup (hehe) kami berdua mulai menyusuri perjalanan lagi.
Benar yang kubayangkan ternyata langsung di hadapkan sebuah tanjakan yang meliuk dan panjang, napas mulai memburu, dengkul juga mulai panas mengebul, dengan tekad awal harus ku jalani, masa  menyerah :) 

liku liku tanjakan

Tanjakan panjang

Dengan sabar kukayuh pedal sepeda Mossoku, hanya bayangan sampai keatas jadi penyemangatku. 
Mas Hendri pun setia mengikutiku walaupun kelihatannya repot dengan tanjakan yang menyiksanya hehehe
Sesekali kami disapa oleh pemotor atau penumpang bus yang melewati, sambil memberikan salam ibu jari tanda jempolan hehe...semangat ah..
Tanjakan setelah Garung
Yang jadi penghibur selama perjalanan adalah pemandangan disekelilingku yang indah luar biasa, mengagumi ciptaan Alloh subhanahu wataala.

Sambil berhenti, tidak lupa selalu ambil momen gunung Sindoro dan sumbing yang berdampingan menambah keindahan alam perjalanan ke Dieng Plateau.
 
Keindahan alam
Tak terasa, walaupun perjalanan nan berat sampailah disuatu desa yang bernama Tieng, kebetulan beberapa minggu sebelumnya terkena bencana longsor yang membuat warga desa harus mengungsi di balai desa.
Tanah longsor


Tieng Wonosobo
Dengan cuaca yang kadang gerimis, kabut datang dan hilang seketika akhirnya kami berdua berhasil mencapai menara pandang Tieng (1789 mdpl), sambil rehat sejenak saya pesan dua porsi sate ayam, hmmm lumayan buat ganjal perut yang keroncongan selama perjalanan nanjak ini.
Fasilitas di Gardu pandang lumayan lengkap, ada pedagang berbagai macam makanan khas Dieng misal Carica, Purwaceng, kripik jamur dan lainnya, harganya juga pas dikantong.
Yang mau ”narsis” berfoto tinggal memilih tempat disekeliling menara pandang yang mempunyai dua lantai, keindahan alamnya membuat yang memandanginya takjub.

Gardu Pandang
Tak terasa 1 jam berlalu, perjalanan pun dilanjutkan,
Tanjakan semakin curam, napas tersengal-sengal juga, mungkin karena oksigen semakin menipis diketinggian. Kabut turun semakin pekat menutupi jalan, jarak pandang hanya 3 meter, sensasi ini luar biasa.

Kabut Dieng


Tanjakan setelah Gardu pandang
Kami pun berhenti sejenak, melihat sekeliling yang sudah tertutup oleh kabut tebal, didekat kami berhenti seorang petani yang sedang menunggu angkutan pulang, sambil ngobrol kamipun sempat berfoto.

Petani Dieng
Akhirnya kamipun sampai di Gapura Selamat Datang Dieng, waktu yang tersisa kami gunakan untuk berfoto ria.

Gapura Selamat Datang




Untuk mencapai kawasan wisata Dieng masih menempuh jarak 6 km lagi, namun karena cuaca kurang mendukung, dan jalan yang semakin sulit kami putuskan turun kembali ke kalianget Wonosobo.
Saat kembali turun, hujanpun turun membasahi baju, tas dan sepeda kami. Menambah rasa kedinginan, beku rasanya. Brrrr
Bau kampas rem yang terbakar membuktikan curamnya perjalanan ini.
Sampai Pom bensin Kalianget Wonosobo, kami bergegas mandi, sholat dan merapikan perbekalan dan peralatan.

Kehujanan
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada petugas Pom bensin kalianget yang telah memberikan tempat buat nitip boil.

Perjalanan pulang,
Rasa lapar menyerang, hawa dingin yang menusuk membuat perut tambah keroncongan.
Kami berdua putuskan mencari kuliner wonosobo, mie ongklok, yang rasanya nikmat hmmm


Tapi sayang momen ini karena baterai kamera habis, tidak bisa terabadikan.

Perjalan pulang ke Banjarnegara kembali setelah seharian berpetualang ( ciee ), membawa kenangan manis.
Suatu saat harus bisa menuntaskannya kembali, baru sampai tugu selamat datang.
Besoknya entah kapan harus sampai Dieng Plateau nya.


Miss you ...
Catatan lama terpendam (episode bersambung)

Gunpar